KATA MANIS BERBALUT LUKA DARI SEORANG PRIA
/1/
Nona,
Ku tulis syair ini untuk mewakili luka yang
pernah kau patri di hatiku tempo hari. Agar kau tahu nona, setiap pagi,
setelah kau patri luka itu, aku selalu menatap cangkokan melati yang
kau tanam di halaman rumahku bersama kuntum bunga tulip yang selalu
memancarkan cahaya suram sehalus pualam. Bersamaan dengan itu, aku juga
selalu membayangkan rambut mayangmu yang kecoklatan. Yang sering kepang
tak karuan seperti cinta yang selalu kau bisikkan di ujung telingaku: aku baru sadar cintamu kepang nona !
/2/
Nona,
Sungguh, ternyata kau tega menghapus jejak
percintaan kita. Tidakkah kau mau mengenangnya lebih lama lagi nona?
Tidakkah suatu waktu kau ingin mengenang getar bibirku saat mengucapkan
puncuk rindu untukmu nona?. Atau tentang keluhku yang selalu melepuh di
ujung kelambu? Keluhku di atas bantal yang pernah kunamai bantal sejuta
mimpi untukmu nona?
/3/
Nona,
Pagi ini, seperti juga pagi-pagi
sebelumnya, aku kembali mengelus pisau berkarat yang ku letakkan di
bawah bantalku. Pisau yang telah kulumuri dengan air mata duka mengental
dari cinta yang kau tinggal pergi. Pisau yang tiap hari kian berkarat
dan berbau amis. Pisau yang ku sediakan khusus untuk jantung burung
elang yang telah merebut kau dari sisiku: Sekali lagi, disini ada pisau yang telah kulumuri air mata duka mengental nona !
/4/
Nona,
Pagi ini, segangaja tak kusediakan
secangkir kopi. Tak ada pula sepotong roti untuk menemani sarapan
pagiku. Aku hanya ingin menikmati cicit pipit yang baru saja kuundang
untuk menemaniku menyambut pagi. Sengaja kuundang nona, sebab aku sudah
jenuh mendengan lolongan anjing dan serigala di setiap malam-malamku: Sungguh, aku jenuh mendengar suara mereka nona !
/5/
Nona,
Tahukah kau apa yang selalu ku simpan saat
mendengar lolongan anjing dan serigala itu?. Aku selalu menyimpan
kerinduan yang dirajai gelora dendam dan kebencian. Gelora dendam dan
kebencian yang bermuara dengan genangan air mata di pipiku. Genangan air
mata yang menunjukkan segala kelemahanku saat tidak berhasil menemukan
bayangan elang yang menculikmua. Genangan air mata yang menunjukkan
segala kelemahanku saat tak menerima kekalahanku melawan elang yang
mencengkrammu lalu membawamu terbang ke bukit khianat.
/6/
Nona,
Seandainya ada air mata yang mematikan
manusia, mungkin aku sudah mati berkali-kali nona. Mungkin hari ini aku
tidak bisa lagi mengelus pisau berkarat itu. Mungkin hari ini aku tak
ada lagi untuk mengusap kain kafanmu bersama elang yang kau pilih
sebagai pendamping hidupmu. Entah sampai kapan aku sanggup bertahan
dengan keadaanku seperti ini nona. Entah sampai kapan aku akan menatap
pisau berkarat itu yang sekarang sudah mengarah tepat ke jantungku nona.
Haruskah aku menunggumu di tempat lain nona?. Di tempat dimana kau dan
elang bajingan itu akan berlabu setelah kalian lelah bermimpi?: Sekarang, aku hanya akan memilih diam nona !
(Nyanyian rindu pun diputar. Angin
bergemuruh dari segala penjuru. Embun membeku di kaki mentari. Burung
pipit terbang tanpa suara. Ratapanku pun kian abadi di tepian duka. Aku
laki-laki pencinta luka. Yang baru bersenggama takdir kelam. Yang baru
saja merasakan luka yang di goreskan oleh asmara buta yang dahulu
kunamai cinta. Cinta yang akhirnya memilih khianat dari pada setia
sebagai pendampingku).
BY.ARDI DHAMERO SIHOMBING
Tidak ada komentar:
Posting Komentar