Senin, 03 Maret 2014

SUARA HATI LAKI-LAKI PECINTA LUKA


KATA MANIS BERBALUT LUKA DARI SEORANG PRIA

/1/
Nona,
Ku tulis syair ini untuk mewakili luka yang pernah kau patri di hatiku tempo hari. Agar kau tahu nona, setiap pagi, setelah kau patri luka itu, aku selalu menatap cangkokan melati yang kau tanam di halaman rumahku bersama kuntum bunga tulip yang selalu memancarkan cahaya suram sehalus pualam. Bersamaan dengan itu, aku juga selalu membayangkan rambut mayangmu yang kecoklatan. Yang sering kepang tak karuan seperti cinta yang selalu kau bisikkan di ujung telingaku: aku baru sadar cintamu kepang nona !
/2/
Nona,
Sungguh, ternyata kau tega menghapus jejak percintaan kita. Tidakkah kau mau mengenangnya lebih lama lagi nona? Tidakkah suatu waktu kau ingin mengenang getar bibirku saat mengucapkan puncuk rindu untukmu nona?. Atau tentang keluhku yang selalu melepuh di ujung kelambu? Keluhku di atas bantal yang pernah kunamai bantal sejuta mimpi untukmu nona?
/3/
Nona,
Pagi ini, seperti juga pagi-pagi sebelumnya, aku kembali mengelus pisau berkarat yang ku letakkan di bawah bantalku. Pisau yang telah kulumuri dengan air mata duka mengental dari cinta yang kau tinggal pergi. Pisau yang tiap hari kian berkarat dan berbau amis. Pisau yang ku sediakan khusus untuk jantung burung elang yang telah merebut kau dari sisiku: Sekali lagi, disini ada pisau yang telah kulumuri air mata duka mengental nona !
/4/
Nona,
Pagi ini, segangaja tak kusediakan secangkir kopi. Tak ada pula sepotong roti untuk menemani sarapan pagiku. Aku hanya ingin menikmati cicit pipit yang baru saja kuundang untuk menemaniku menyambut pagi. Sengaja kuundang nona, sebab aku sudah jenuh mendengan lolongan anjing dan serigala di setiap malam-malamku: Sungguh, aku jenuh mendengar suara mereka nona !
/5/
Nona,
Tahukah kau apa yang selalu ku simpan saat mendengar lolongan anjing dan serigala itu?. Aku selalu menyimpan kerinduan yang dirajai gelora dendam dan kebencian. Gelora dendam dan kebencian yang bermuara dengan genangan air mata di pipiku. Genangan air mata yang menunjukkan segala kelemahanku saat tidak berhasil menemukan bayangan elang yang menculikmua. Genangan air mata yang menunjukkan segala kelemahanku saat tak menerima kekalahanku melawan elang yang mencengkrammu lalu membawamu terbang ke bukit khianat.
/6/
Nona,
Seandainya ada air mata yang mematikan manusia, mungkin aku sudah mati berkali-kali nona. Mungkin hari ini aku tidak bisa lagi mengelus pisau berkarat itu. Mungkin hari ini aku tak ada lagi untuk mengusap kain kafanmu bersama elang yang kau pilih sebagai pendamping hidupmu. Entah sampai kapan aku sanggup bertahan dengan keadaanku seperti ini nona. Entah sampai kapan aku akan menatap pisau berkarat itu yang sekarang sudah mengarah tepat ke jantungku nona. Haruskah aku menunggumu di tempat lain nona?. Di tempat dimana kau dan elang bajingan itu akan berlabu setelah kalian lelah bermimpi?: Sekarang, aku hanya akan memilih diam nona !
(Nyanyian rindu pun diputar. Angin bergemuruh dari segala penjuru. Embun membeku di kaki mentari. Burung pipit terbang tanpa suara. Ratapanku pun kian abadi di tepian duka. Aku laki-laki  pencinta luka. Yang baru bersenggama takdir kelam. Yang baru saja merasakan luka yang di goreskan oleh asmara buta yang dahulu kunamai cinta. Cinta yang akhirnya memilih khianat dari pada setia sebagai pendampingku).



BY.ARDI DHAMERO SIHOMBING 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar